GMNI Kupang Kecam Brutalitas Aparat saat Aksi Cipayung Plus, Sejumlah Demonstran Luka-Luka
Foto: Ketua GMNI Cabang Kupang, Jecson Marcus
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Cabang Kupang mengecam keras tindakan represif yang diduga dilakukan aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja terhadap massa aksi Cipayung Plus di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur, Kamis (7/5/2026).
GMNI menilai tindakan kekerasan terhadap mahasiswa saat menyampaikan aspirasi merupakan bentuk pelanggaran terhadap nilai demokrasi dan kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.
Aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa tersebut merupakan bentuk protes terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Nusa Tenggara Timur, mulai dari isu Hari Buruh, persoalan pendidikan, hingga berbagai problem sosial lainnya. Namun, aksi yang berlangsung di depan Kantor Gubernur NTT itu justru berujung ricuh setelah aparat diduga melakukan tindakan represif terhadap massa demonstrasi.
Dalam peristiwa tersebut, belasan peserta aksi dilaporkan mengalami luka dan memar di sejumlah bagian tubuh, seperti kepala, pelipis, dan punggung. Luka-luka itu diduga akibat tindakan kekerasan yang dilakukan oknum aparat kepolisian dan Satpol PP saat proses pengamanan aksi berlangsung.
Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Cabang Kupang, Jecson Marcus, menegaskan bahwa tindakan represif terhadap mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi secara demokratis tidak dapat dibenarkan dan memiliki konsekuensi hukum.
“Mahasiswa turun ke jalan membawa suara rakyat, bukan untuk dibungkam dengan kekerasan. Kami mengecam keras tindakan represif terhadap massa aksi. Demokrasi harus dijaga dengan dialog dan penghormatan terhadap hak rakyat untuk menyampaikan pendapat,” tegas Jecson Marcus.
GMNI Cabang Kupang mendesak Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur untuk segera melakukan evaluasi dan mengusut tuntas oknum aparat yang diduga terlibat dalam tindakan represif terhadap mahasiswa. Selain itu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur juga diminta membuka ruang dialog yang sehat dan demokratis terhadap setiap aspirasi masyarakat serta tidak menunjukkan sikap antikritik.
Dalam laporannya ke media, GMNI Kupang akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada pertanggungjawaban yang jelas terhadap para korban. Organisasi mahasiswa itu juga memastikan akan tetap berdiri bersama rakyat dalam memperjuangkan demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat tanpa intimidasi maupun kekerasan aparat.
Editor :mawardi@2021