Pemkab Bojonegoro Buktikan Identitas Daerah Obor Sewu Jadi Penggerak Ekonomi Warga
Pemkab Bojonegoro Buktikan Identitas Daerah Obor Sewu Jadi Penggerak Ekonomi Warga
SIARAN PERS
Nomor : 400.14.9/593.1/412.213/2026
Pemkab Bojonegoro Buktikan Identitas Daerah Obor Sewu Jadi Penggerak Ekonomi Warga
SIGAPNEWS.CO.ID | BOJONEGORO - Sebuah corak motif batik tak selalu berhenti sebagai kelir pada selembar kain. Di Kabupaten Bojonegoro, Corak obor Sewu tumbuh menjadi simbol identitas masyarakat Samin, sekaligus membuka peluang besar untuk perekonomian bagi warga yang berada di balik proses pembuatnya.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam hal ini telah mencanangkan motif Obor Sewu sebagai salah satu bagian dari Busana Dinas Harian (BDH). atau Aparatur Negara (ASN) diwajibkan memakai adat Samin.
Kebijakan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Bupati Bojonegoro Nomor 065/378/412.032/2025 tentang Penggunaan PDH Adat Samin di lingkungan Pemkab Bojonegoro Tahun 2025
Kebijakan itu tidak hanya memperkuat identitas budaya daerah, tetapi juga membuat motif khas masyarakat Samin dapat dikenal masyarakat luas. Obor Sewu yang sebelumnya lebih banyak beredar di lingkungan komunitas Samin kini mulai dikenakan masyarakat dari berbagai semua kalangan.
Bambang Sutrisno, pewaris sesepuh Sedulur Sikep Samin, mengatakan Obor Sewu memiliki sejarah yang berkaitan dengan perjalanan Samin Surosentiko. Nama tersebut berasal dari kisah ketika Samin Surosentiko mengumpulkan para pengikutnya dengan penerangan berupa obor.
“Maksudnya Obor itu lampu, sewu itu bermakna banyak. Jadi cita-citanya bagaimana agar pitutur atau petuah Mbah Samin menjadi penerang generasi selanjutnya,” ujar Bambang Sutrisno, Rabu (23/9/2026).
Filosofi yang sangat dalam itu , kemudian melekat pada motif Obor Sewu. Motif tersebut menjadi simbol harapan agar ajaran dan pitutur luhur masyarakat Samin tetap menjadi penerang bagi generasi generasi selanjutnya.
Nilai filosofis yang dibawa antara lain tentang kejujuran, kesabaran, nrimo, serta trokal. Bambang Sutrisno menjelaskan, trokal merupakan sikap tidak mudah menyerah dan terus memiliki semangat dalam menjalani kehidupan.
“Dampaknya sangat luar biasa. Setelah menjadi PDH ASN, banyak orang yang mulai tertarik dengan filosofi Obor Sewu, sejarah masyarakat Samin, termasuk ajaran dan adat yang sampai sekarang masih kami pertahankan,” Tandasnya.
Perhatian yang semakin luas tersebut ikut mengerek permintaan terhadap produk Obor Sewu. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat yang terlibat dalam proses produksi, mulai dari pembuat motif batik hingga penjahitnya.
Sebelum digunakan sebagai PDH ASN, Obor Sewu memang tidak dipasarkan secara luas di luar komunitas Samin. Orang yang ingin mendapatkan kain tersebut diarahkan datang langsung ke komunitas Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo.
“Dulu kita konsep bahwa Obor Sewu tidak dijual di pasar luar. Artinya, orang yang ingin Obor Sewu harus datang ke komunitas masyarakat Samin. Jadi, bisa menjadi sebuah kebanggaan bagi mereka yang memakai Obor Sewu karena sebagai bukti beliau sudah pernah datang ke komunitas masyarakat Samin,” jelas Bambang.
Kini, permintaan datang dari berbagai kalangan. Lingkungan pendidikan juga ikut memperkenalkan Obor Sewu. Salah satu perguruan tinggi di Bojonegoro, misalnya, menggunakan selendang Obor Sewu bagi mahasiswa perempuan dan udheng Obor Sewu bagi mahasiswa laki-laki dalam kegiatan pengenalan mahasiswa baru.
Dari sisi harga, kain Obor Sewu dibanderol sekitar Rp160 ribu. Sementara udheng berada di kisaran Rp70 ribu dan selendang sekitar Rp40 ribu.
Peningkatan permintaan juga sempat membuat jumlah warga yang terlibat dalam produksi bertambah. Pada masa permintaan tinggi, lebih dari 50 orang ikut membatik dan menjahit. Saat ini, sekitar 30 hingga 40 orang masih terlibat dalam proses produksi.
Pembatik Obor Sewu tetap berasal dari masyarakat Samin di Margomulyo. Sementara pekerjaan menjahit juga melibatkan masyarakat dari wilayah lain, termasuk Kecamatan Ngraho. Dengan demikian, perputaran ekonomi dari produk budaya tersebut tidak hanya dirasakan pembatik, tetapi juga membuka peluang penghasilan bagi penjahit.
Motif Obor Sewu sendiri memiliki kedudukan khusus sebagai identitas budaya masyarakat Samin Margomulyo. Motif tersebut telah tercatat dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan nomor pencatatan 000160986.
Karena itu, proses pembatikan tetap dilakukan oleh masyarakat Samin Margomulyo. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keaslian sekaligus nilai filosofis yang terkandung dalam Obor Sewu.
Menariknya, peningkatan permintaan juga mendorong sebagian masyarakat Samin yang sebelumnya belum mengenal keterampilan membatik untuk mulai belajar. Ketika permintaan sempat melonjak setelah penerapan PDH ASN, paguyuban batik di Bojonegoro turut membantu memenuhi kebutuhan produksi melalui kesepakatan bersama.
Setelah kebutuhan terpenuhi, proses produksi kembali dilakukan masyarakat Samin. Hingga kini, pesanan Obor Sewu masih berjalan dengan rata-rata satu hingga dua pesanan per hari.
Selain menjadi penggerak ekonomi, Obor Sewu juga menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kehidupan masyarakat Samin kepada publik. Hal itu terlihat ketika asesor UNESCO dari Jerman dan China mengunjungi komunitas Samin di Dusun Jepang dalam rangkaian penilaian UNESCO Global Geopark (UGGp) Bojonegoro.
Para asesor tidak hanya melihat proses membatik, tetapi juga menyaksikan seni karawitan serta mempelajari sejarah dan ajaran masyarakat Samin. Bahkan, mereka menghabiskan waktu lebih dari dua jam di kampung Samin.
Bagi masyarakat Samin, semakin dikenalnya Obor Sewu membawa makna lebih luas. Motif tersebut bukan sekadar produk kerajinan atau bagian dari busana kedinasan, melainkan menjadi medium untuk memperkenalkan sejarah, ajaran, dan nilai budaya Samin.
Di saat yang sama, aktivitas membatik dan menjahit membuat pelestarian budaya berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi warga. Obor Sewu pun benar-benar menjadi “obor” yang menerangi dua sisi sekaligus: menjaga warisan budaya dan menghidupkan penghasilan masyarakat .
Narahubung:
Dinas Komunikasi dan Informatika
Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik
Editor :sitirahayu
Source : sigapnews.co.id