Viral di Medsos, Tambang Emas Tumpang Pitu Dinilai Ancam Lingkungan Banyuwangi
Beberapa hari ini, Media Sosial (MEDSOS) khususnya TikTok dihebohkan dengan banyaknya postingan dari warganet mengenai Gunung Tumpang Pitu.
Banyuwangi|Beberapa hari ini, Media Sosial (MEDSOS) khususnya TikTok dihebohkan dengan banyaknya postingan dari warganet mengenai Gunung Tumpang Pitu. Hal tersebut jelas memantik reaksi publik sehingga gunung tumpang pitu yang berada di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi langsung viral dan menjadi tranding topik.
Seperti diketahui bersama, jika disana ada aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh PT Bumi Suksesindo (BSI) untuk mengambil emas. Akibatnya gunung yang dulu tinggi menjadi cekung dan berlubang, sedangkan hutan yang dulu penuh pepohonan menjadi gundul.
Atas kejadian itu, Ketua Umum Lembaga Diskusi Kajian Sosial (LDKS) Pilar Jaringan Aspirasi Rakyat (PIJAR) yaitu Bondan Madani, mendesak agar pemerintah pusat khususnya presiden memberi atensi khusus untuk menghentikan aktivitas pertambangan di gunung tumpang pitu.
"Kami berharap pak Prabowo memerintahkan menteri terkait untuk datang ke Banyuwangi meninjau lokasi secara langsung. Bahkan jika perlu, pak presiden sendiri yang melihat secara langsung kondisi kerusakan lingkungan akibat adanya aktivitas pertambangan," Ucap Bondan Madani, kepada awak media, Kamis, 18 Desember 2025.
Masih menurut Bondan, musibah yang terjadi di pulau Sumatera akibat alih fungsi hutan menjadi perhatian warganet terhadap kerusakan lingkungan di gunung tumpang pitu. Menurut warganet, bencana yang dialami saudara kita di provinsi Aceh, SUMUT dan SUMBAR bisa juga terjadi di Banyuwangi khususnya wilayah Dusun Pancer.
"Tentunya kita berharap agar tidak musibah yang terjadi, tetapi pontensi bencana itu ada melihat gunung di kepras dan hutan di babat. Oleh karena itu, kami mendesak agar Presiden Prabowo untuk mencabut IUP PT. BSI. Karena menurut hemat kami, adanya tambang emas tidak memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar maupun masyarakat Banyuwangi secara menyeluruh," Ujarnya.
Lebih lanjut Bondan menjelaskan, permasalahan Gunung Tumpang Pitu ini tidak hanya sekadar pertambangan. Tetapi monumen kegagalan pemerintah dalam menyeimbangkan investasi dan keberlanjutan. Kilauan emas di Banyuwangi hanyalah kepalsua belaka jika harus dibayar dengan kehancuran lingkungan. Pemerintah wajib membuktikan diri sebagai pelindung rakyat, bukan pelayan modal, dengan segera mengaudit secara independen dan membuka tabir konflik kepentingan yang menyelimuti persoalan kerusakan lingkungan.
"Nasi Memang telah menjadi bubur, namun sebelum terlambat dan terjadi musibah seharusnya pemerintah mengambil tindakan pencegahan. Karena aktivitas pertambangan merusak ekosistem dan keindahan alam Banyuwangi yang selama ini menjadi kekuatan sektor pariwisata. Selain itu, adanya tambang emas menciptakan potensi konflik sosial, ketimpangan ekonomi, dan ketidakadilan bagi masyarakat lokal," Pungkasnya.
"Mana CSR yang di gembar-gemborkan perusahaan, kami tidak melihat ada bentuk nyata dari CSR BSI yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat Banyuwangi. Jangan hanya hasil emasnya yang dibawa, tetapi rakyat hanya ditinggali warisan kerusakan lingkungan," Imbuhnya.
Editor :Mirna Lita